kita selalu berkelakar bersama
menguntai kasih dalam balutan sinar
mentari
menebar tawa dalam rintikan gerimis
kala penat dan sepi takkan terasa
bersama menggambar senyum-senyum
polos itu
merangkai untaian sajak dalam mimpi
asaku ingin kembali ke sana
masa-masa sebelum usia merenggutnya
ukiran-ukiran kekanakkan
kata sederhana membentuk tawa
dan sepucuk harapan dalam doa
ketika kita masih sempat bersepeda
berdua
mengarungi dunia tanpa batas
kini semua telah berlalu seiring
dentingan jam
menemani setiap jejak langkah yang
kini sendiri
menepaki jalan menuju kedewasaan
sejati
membawa kita di dunia indah dalam
sajak kelabu
peristiwa bertahu lalu mengukir
sejarah
ketika kau besitkan cincin ilalang di
kelingkingku
tahukah kau?
kau ada sebelum aku mampu mengeja
hingga aku mulai belajar merangkai
kata
kau ada menjadi sandaran sepiku
penggugah semangat di setiap hembusan
nafas
ketika aku mencoba berlari. . .
meninggalkan secercah kenangan dalam
memori
bayangmupun menahanku, menyeret dalam
kenangan tempo dulu
ketika kau lantunkan sebaris kata
"aku menyukaimu"
di ujung senja aku berangan
akankah asaku kan sia?
namun hati ini terlanjur merapuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar