Minggu, 17 September 2017

Pertemuan Singkat Namun Menyayat

Image result for Pertemuan singkat tumblr

Matahari mulai lelah untuk menampakkan keberadaannya, mulai sembunyi dibalik ranting-ranting pohon rindang yang saling berdampingan. Aku duduk dihadapan pelatihku dan saling bertukar cerita yang telah lalu.Tak lama ada sesosok laki-laki berkaos hitam memakirkan honda revonya diantara beberapa motor yang ada di sana. Lalu ia datang menghampiri kami berdua.

" Hai bang, apa kabar ?"
" Baiklah tam"
" wai ada kawan cewek baru kayaknya, nggak ngasih tau lagi!"
" Haha, kenalin ini anak alumni sini namanya inda"

Akhirnya kamipun saling berjabat tangan dan berkenalan. Tak lama adzan magrib mulai berkumandang, kamipun begegas untuk kembali ke penginapan diiringi oleh awan jingga yang mulai tertutupi oleh kelamnya malam. Setelah waktu magrib berlalu kamipun menuju ke ruang makan untuk makan malam. Di tengah kesunyian dia menyeletuk

" Nda, udah punya pacar belum?"
" Haha, lagi gak mau pacaran bang !" jawabku sekenanya.
" wah, ada dong kesempatan abang buat ngedeketin kamu" Sambutnya dengan nada gombal
" Haha, ngomong apasih baru juga kenal" jawabku

Setelah makan, kamipun menuju ke ruang seni untuk latihan perdana kami. Malam ini kamipun latihan dengan kondisi seadanya, karena malam itu kondisinya hujan mengguyur dengan cukup lebat. Setelah latihan usai ritam menghampiriku

"Nda, lapar nggak ?"
"Hehe, iya bang. Dingin-dingin gini enak kali ya masak mie rebus?"
"Haha boleh-boleh, abang juga sekalian nih mau nyari kopi"

Di bawah rerintikan hujan kamipun nekat bergegas menuju alfamart terdekat namun ternyata alfamart sudah keburu tutup, karena waktu telah menunjukkan jam dua belasan. Dengan terpaksa kamipun balik kanan untuk mencari warung-warung terdekat, dan sekitar 10 menit perjalanan kamipun menemukan apa yang kami cari. Sesampainya di penginapan akupun lekas memasak mie yang kami beli serta menyeduhkan kopi untuknya. Setelah selesai menyantap mie tersebut kamipun kembali berbincang di ruang tengah yang ada di penginapan tersebut. Hangatnya kopipun kurasa tak mampu mengalahkan hangatnya perbincangan kami yang masih dalam proses pengenalan satu sama lain. Dinginnya malam itupun tak lagi kurasakan. Karena waktu terus bergulir dan waktupun semakin larut akupun berpamitan untuk tidur, karena besoknya kami harus bangun tepat waktu untuk kembali latihan.

Tak terasa, mataharipun mulai membangunkanku dengan sinarnya yang menyelinap dibalik tirai kamarku. Akupun terbangun, mengambil handuk dan lekas kekamar mandi, kulihat dari celah pintu kamarnya yang tak tertutup rapat dia masih tertidur pulas sedangkan aku tak menemukan pelatihku di sana. Kurasa dia sudah terlebih dahulu menuju tempat latihan. Selesai bersiap akupun berjalan menuju tempat latihan sendiri, karena tak tega untuk membangunkannya. Selang beberapa menit kami latihan kulihat dari kejauhan dia berlari-lari kecil menuju ke tempat kami latihan. Pagi ini pelatihku tampak murung, karena jumlah peserta latihan tidak sebanyak tadi malam dan banyak anak-anak yang datang telat. Pelatihkupun murung dan membatalkan jadwal latihan pada hari itu. Padahal itu tinggal menghitung beberapa hari keberangkatan menuju lomba. Namun pelatihku orang yang labil dan sulit untuk mengontrol emosinya. Jadi aku dan ritam pun hanya mampu untuk mengikuti kehendaknya, karena posisi kami berdua hanyalah sekedar menjadi pendampingnya. Sore harinya diapun harus kembali untuk kembali menyelesaikan pekerjaan dan perkuliahannya. Malam harinya ada inbox masuk via messengerku

'nda, lagi latihan ya?'
'iya bang'
'ooh, boleh minta nomor HP ?'
'boleh bang'
'okedeh makasih ya, ntar kalo udah sampai penginapan kabarin ya, abang mau nelpon'
'oke bang'

Sesampainya di penginapan akupun mengabarinya, tak lama handphoneku pun berdering ada panggilan masuk darinya. Dari obrolan-obrolan singkatnyapun aku merasakan ada hal yang timbul dibenakku. untuk takaran bagi orang yang baru ku kenal seharusnya hal ini tidak terjadi padaku. setelah cukup lama diapun mengakhiri panggilannya dengan ucapan 'selamat malam dan selamat tidur ya nda'. Setelah panggilan darinya berakhir akupun lekas tidur untuk beristirahat. Siang harinya diapun datang lagi ke penginapan sesuai janji dia tadi malam. Kamipun makan siang bersama layaknya keluarga kecil namun bahagia. Setelah makan akupun  membereskan piring-piring kotor dan lekas menyucinya. Diapun menemaniku dari dalam kamarnya.

'nda, mau nggak jadi pacar abang?'

'pyaaaaarrrr' (bunyi gelas pecah), karena sontak aku kaget mendengarkan pernyataannya kepadaku.

'haha nggak usah bercanda lah bang, kitakan baru kenal. nggak mungkin secepat itu mutusin buat pacaran.

'loh kenapa emangnya, nggak boleh?'

' ya gapapa sih bang, tapikan akan lebih baik kalo kita saling mengenal aja dulu satu sama lain, daripada nantinya kita nyesel yakan?'

'haha iyalah dek kalo gitu'

Akupun melanjutkan pekerjaanku dengan fokusku masih kepada pernyataan dia kepadaku.




#Bersambung

JANGAN MERAGU

Teruntuk kamu
yang mengaku agar selalu ada waktu untuk bersatu
Bagaikan bulan dan bintang yang berdampingan bak malam itu
Nyatanya kita bagai bulan dan matahari, yang tak seperti itu
Ada namun bukan untuk saling bertemu

Sebenarnya bukan inginku untuk berkata seperti itu
Namun itu nyata, bukan ?
Sudahlah, tak perlu kau tepis itu
Ku yakin kau mengetahui itu
Namun kau seolah tak acuh begitu
Lantas sampai kapan kau akan bermain sesukamu
Hatiku tak sekeras batu
Aku terlalu perasa untuk hal yang tak menentu
Jadi tolong jangan beri aku janji palsu

Bukan bermaksud memaksakan inginku
Hanya saja aku tak ingin kau terus begitu
Kalau kau ingin berlalu
Silahkan, jangan ragu
Aku tak apa jika itu harus menjadi masa lalu


Sabtu, 16 September 2017

PILU


Aku lelah, dengan malam yang selalu mengusikku
memberitahu bahwa rindu sudah di ambang pintu
Kau tau?
Betapa jarak yang kau bentang tak cukup kuat untuk membuatku menunggu
Mengejarmu pun aku tak mampu
Meskipun jejak yang kau tinggalkan terus tertinggal dibenakku

Tolong perjelas abu-abu itu
Janjikan bahwa langkahmu itu pergi yang tak akan kembali lagi padaku
Biarkan sendu yang akan menggiringku
Pada pemberhentian bernama rindu

Mari Perbaiki


Kau yang suka datang dan pergi
maaf hatiku bukan tempat persinggahan
yang seenaknya saja kau hampiri lalu kau tinggalkan
kau taukan bahwa jejakmu itu tertinggal ?
jejak yang tak kasat mata
ada namun tak jelas terlihat

Lalu bagaimana aku bisa menghapusnya?
atau haruskah aku biarkan?
Tolong jelaskan jejakmu yang abu-abu
atau harus aku yang membuat jejak itu tertimpali
Namun tolong jangan pernah salahkan aku jika jejakmu itu semakin jelas
bukan karena kau kembali
namun karena ada orang lain yang menghampiri

Kau harusnya paham
bukan inginku ada yang menghampiri
namun aku tak percaya kau akan kembali
karena seringkali kau kembali namun kau pergi lagi
dan akhirnya aku menyadari
aku hanya menunggu sesuatu yang sebenarnya tidak pasti
hanya saja aku selalu berusaha memastikan hal yang tidak pasti ini

Semoga kita saling mengerti
dan mampu untuk saling mengkoreksi
bukan untuk saling mengakhiri
tapi untuk mencoba memperbaiki


Sabtu, 07 Mei 2016

Proses


Tidak semudah yang terlihat ternyata, ada banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menikmati agar pementasan kita dinikmati oleh penonton, bukan seberapa hebat kamu pandai berakting tapi seberapa hebat kamu menjadi seolah-olah nyata dalam kehidupan yang kamu jalani diatas panggung.


Kamis, 12 November 2015

Jangan Bilang Rindu


Aku menulis ini bersama rasa sakit yang tidak benar-benar kamu pahami. Aku menatap laptopku dengan wajah masam, berujung pada perasaan yang tidak berhasil kau tebak. Mengertikah kamu, perjuanganku juga butuh kepedulianmu?

Entah karena kauterlalu bodoh untuk menilai atau terlalu egois untuk memaklumi. Aku mencoba sabar, mencoba sabar menghadapimu. Aku berusaha bertahan, berusaha mempertahankan yang harusnya aku lepaskan. Aku sudah menunggu sangat lama, mengharap pengertianmu menderas ke arahku. Tapi, hal itu tak kunjung kutemui. Kamu masih begitu, dengan omonganmu, dengan tingkahmu yang tak berubah.

Apakah kesabaran dan perjuangan yang kulakukan benar-benar tak terlihat di matamu? Kaumengetahui segalanya kan? Mengapa hanya diam dan bisumu yang selalu kudapati di hari-hari kebersamaan kita?

Aku ketakutan dan kedinginan sendirian. Kamu tak pernah ada di sini saat aku butuhkan. Aku juga tak paham lagi, pantaskah kebersamaan kita terus aku perjuangkan? Pantaskah sosokmu selalu kupertahankan? Jika yang kudapatkan hanya pengabaian, ketidakpedulian dan kebohongan; bagian manakah yang bisa memberi kebahagiaan?

Kamu jauh di sana, tak banyak yang kau lakukan selain mengirim pesan singkat atau menyapaku dari ujung telepon. Tak banyak yang bisa kita lakukan selain saling merindukan. Rasa perih itu semakin membesar, membentuk luka yang mungkin sulit sembuh. Semakin sering aku tak melihatmu, ketakutanku di sini semakin menebal.

Perlukah aku membandingkan kamu dengan pria-pria lain yang lebih pandai meluangkan waktunya untukku, daripada sedikit waktu yang kauluangkan untukku? Kamu tak pernah peduli pada sakitku, perihku, dan sedihku. Kaubiarkan aku menyelesaikan segalanya sendirian. Inikah wujud kepedulian yang selalu kauributkan denganku? Mana kepedulianmu? Mana kehadiranmu? Kosong!