Kamis, 30 Januari 2014

Anak Asrama

Sekilas Cerita Anak Asrama




Kepala ku pusing sekali. Hari ini genap 1 minggu aku mati kata-kata, mati jiwa, mati semangat. Entahlah, tak biasanya aku seperti ini. Setiap tugas pasti aku laksanakan, kilat, sempurna! Aku tak tahu, apa karena topiknya menarik jiwa jurnalisku, atau memang karena jiwaku yang tak menarik topic itu, atau pula karena acuhku, malasku, hatiku, kebodohanku?
Aghh… kucuba baca pelan-pelan dan betapa aku ingin mengerti maksud dari kajian utama yang sama persis topiknya dengan liputanku. Bla…bla..bla…
Tiba-tiba…
Fida, Asna, Utri, Lina, Nur…” ke kamar kita ding sekarang!
Mbak Fitri tetangga kamarku memanggil lantang tetangga kamarku yang lain. Wush.. menguap sudah, apa yang telah kubaca dan kupahami.
“sial”. Rutukku.
Kenapa aku lebih mendengar jelas panggilan Mbak Fitri? Aku tahu, ini karena telingaku lebih kufokuskan daripada mata, hati, dan pikiranku. Apakah namaku masuk dalam daftar nama yang disebutkan tadi? Inilah fokus telingaku.
Ternyata, Tidak! Kenapa ya? Kepalaku tambah pusing memikirkannya.
Oh, Mom… aku bukanlah anak baru di asrama ini. Aku orang lama, 2 tahun di sini. Dicuekin!
Apa sih yang ingin mereka bicarakan? Apa ada acara makan bersama di kamar? Dasar! Lagi, aku mati jiwa, mati semangat, tapi tidak mati rasa.
Ih, benci. Sebel! Semua penghuni asrama ini berkumpul dalam satu kamar, kecuali aku.
Selang lima menit kemudian, terdengar riuh, terbahak-bahak. Aku hanya diam mematung dalam kamarku sendiri, yang letaknya tepat didepan kamar Mbak Fitri. Aku berpikir keras, kenapa aku tidak dilibatkan? Apa mereka kira aku ini paling egois karena satu-satunya manusia yang mengontrak kamar sendiri, sementara mereka mengontrak satu kamar 2-3 orang penghuninya. Ah, pasti bukan karena ini.
Lagi, mereka terbahak-bahak, membahana.
Kucoba tak lagi mempedulikan tawa mereka. Kembali fokus pada konsep liputanku. Kuraih news letter terbitan lembaga kampus terkemuka di Kotaku, seraya memperbaiki posisi badan di atas dipan mungil.
Dari awal kubaca tulisan di news letter tersebut, lalu mataku turun ke terasnya. Bla.. bla.. bla..
Fokus, paham! Entah kemana suara mereka kualihkan atau pita suara mereka yang telah putus. Otakku sedikit terisi, terus, terus, dan terus. Rasanya, besok outline sudah bisa kutempel di Sekretariat. Tak akan lagi kunikmati wajah masam Si Erna, sang Redaktur pelaksana, wajah sok member semangat dan nakal si Ridwan Pemimpin Redaksi. Lihatlah, akan kutunjukkan diriku sebagai seorang redaktur yang disiplin beserta outline yang pasti membuat para reporter ber-ah..ih..uh..
Kembali, tiba-tiba…
“ciyeeee….” Koor para penghuni asrama dari kamar Mbak Fitri.
Angin apa yang menggiring suara-suara lemah lembut nan memekakkan itu menyinggahi telingaku. Sadar, aku tergoda. Tapi jika aku telah mengisi air dalam gelas, aku yakin tak akan tumpah kecuali gelas itu pecah atau badailah penyebabnya.

Tidak ada komentar: