Sekilas Cerita Anak Asrama


Kepala ku pusing
sekali. Hari ini genap 1 minggu aku mati kata-kata, mati jiwa, mati
semangat. Entahlah, tak biasanya aku seperti ini. Setiap tugas pasti aku
laksanakan, kilat, sempurna! Aku tak tahu, apa karena topiknya menarik
jiwa jurnalisku, atau memang karena jiwaku yang tak menarik topic itu,
atau pula karena acuhku, malasku, hatiku, kebodohanku?
Aghh… kucuba baca
pelan-pelan dan betapa aku ingin mengerti maksud dari kajian utama yang
sama persis topiknya dengan liputanku. Bla…bla..bla…
Tiba-tiba…
“Fida, Asna, Utri, Lina, Nur…” ke kamar kita ding sekarang!
Mbak Fitri tetangga kamarku memanggil lantang tetangga kamarku yang lain. Wush.. menguap sudah, apa yang telah kubaca dan kupahami.
“sial”. Rutukku.
Kenapa aku lebih
mendengar jelas panggilan Mbak Fitri? Aku tahu, ini karena telingaku
lebih kufokuskan daripada mata, hati, dan pikiranku. Apakah namaku masuk
dalam daftar nama yang disebutkan tadi? Inilah fokus telingaku.
Ternyata, Tidak! Kenapa ya? Kepalaku tambah pusing memikirkannya.
Oh, Mom… aku bukanlah anak baru di asrama ini. Aku orang lama, 2 tahun di sini. Dicuekin!
Apa sih yang ingin
mereka bicarakan? Apa ada acara makan bersama di kamar? Dasar! Lagi, aku
mati jiwa, mati semangat, tapi tidak mati rasa.
Ih, benci. Sebel! Semua penghuni asrama ini berkumpul dalam satu kamar, kecuali aku.
Selang lima
menit kemudian, terdengar riuh, terbahak-bahak. Aku hanya diam mematung
dalam kamarku sendiri, yang letaknya tepat didepan kamar Mbak Fitri.
Aku berpikir keras, kenapa aku tidak dilibatkan? Apa mereka kira aku ini
paling egois karena satu-satunya manusia yang mengontrak kamar sendiri,
sementara mereka mengontrak satu kamar 2-3 orang penghuninya. Ah, pasti
bukan karena ini.
Lagi, mereka terbahak-bahak, membahana.
Kucoba tak lagi mempedulikan tawa mereka. Kembali fokus pada konsep liputanku. Kuraih news letter terbitan lembaga kampus terkemuka di Kotaku, seraya memperbaiki posisi badan di atas dipan mungil.
Dari awal kubaca tulisan di news letter tersebut, lalu mataku turun ke terasnya. Bla.. bla.. bla..
Fokus, paham! Entah
kemana suara mereka kualihkan atau pita suara mereka yang telah putus.
Otakku sedikit terisi, terus, terus, dan terus. Rasanya, besok outline sudah bisa kutempel di Sekretariat.
Tak akan lagi kunikmati wajah masam Si Erna, sang Redaktur pelaksana,
wajah sok member semangat dan nakal si Ridwan Pemimpin Redaksi.
Lihatlah, akan kutunjukkan diriku sebagai seorang redaktur yang disiplin
beserta outline yang pasti membuat para reporter ber-ah..ih..uh..
Kembali, tiba-tiba…
“ciyeeee….” Koor para penghuni asrama dari kamar Mbak Fitri.
Angin apa yang
menggiring suara-suara lemah lembut nan memekakkan itu menyinggahi
telingaku. Sadar, aku tergoda. Tapi jika aku telah mengisi air dalam
gelas, aku yakin tak akan tumpah kecuali gelas itu pecah atau badailah
penyebabnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar